Latar Belakang

Sektor energi merupakan salah satu sektor yang tidak terpisahkan dalam pembangunan sebuah bangsa. Pengelolaan dan pemanfaatan energi secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi nasional merupakan tanggung jawab bersama demi terjaganya ketahanan dan kemandirian energi. Secara global Indonesia berada pada peringkat 73 dari 129 negara di dunia pada laporan “Energy Suistanibility Index” yang dirilis oleh World Energy Council pada tahun 2013. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem tata kelola energi Indonesia masih jauh dari unsur ketahanan dan kemandirian.

Ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi bahan bakar fosil menjadikan pengembangan energi baru terbarukan sulit untuk berkembang. Namun meskipun bahan bakar fosil menjadi sumber energi yang utama, tata kelola migas tetap masih jauh dari harapan. Produksi minyak bumi yang terus menurun berbanding terbalik dengan konsumsi yang terus naik dari tahun ke tahun. Dengan demikian langkah impor energi menjadi salah satu pilihan yang tidak dapat dihindari oleh pemerintah. Dengan ratarata produksi minyak mentah sebesar 830.000 barel minyak/hari dan konsumsi sebesar 1,4 juta barel minyak/hari maka impor minyak tidak dapat dihindarkan.

Kenyataan bahwa Indonesia yang saat ini tidak lagi kaya akan sumber energi migas harus dijadikan perhatian utama bagi para pengambil kebijakan sektor energi. Salah satu alasan Indonesia menjadi negara yang tidak lagi kaya akan migas adalah karena minimnya eksplorasi sumber daya ini. Kawasan Indonesia Timur terutama adalah wilayah yang minim eksplorasi. Selain itu juga produksi migas nasional masih tergantung pada lapangan-lapangan tua. Dalam hal cadangan gas, cadangan terbukti (proven reserve) minyak Indonesia saat ini adalah sebesar 4,2 milyar barel, sedangkan cadangan minyak dunia sebesar 1,42 triliyun barel. Dengan demikian cadangan minyak Indonesia hanya berkisar 0,34% dari cadangan dunia .

Sedangkan dalam komoditas gas, cadangan Indonesia sebesar 1,7% dari cadangan gas dunia. Saat ini potensi gas Indonesia lebih kompetitif daripada minyak. Sektor hilir energy juga memerlukan perhatian yang mendalam dalam tata kelola energi Indonesia. Dalam tahap ini sumber energi dapat dimanfaatkan dengan optimal jika di dukung dengan mekanisme distribusi, pemasaran dan manajemen yang baik. Sinergi juga harus terjadi antara kebutuhan masyarakat dan industri. Konsep daya saing Indonesia pada bidang energi pada dasarnya mengacu pada beberapa komponen utama yaitu; ketersediaan, keterjangkauan, keberlangsungan dan kemandirian. Dengan mengurai komponen-komponen tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan tata kelola energi yang optimal dan bersinergi sesuai dengan kebutuhan nasional.

Tujuan

1. Mengawal segala kebijakan energi Indonesia sesuai dengan konsep daya saing energi mencakup ketersediaan energi, kerterjangkauan energi, keberlangsungan energi dan kemandirian energi

2. Perbaikan sistem tata kelola energi nasional dengan prioritas pemenuhan sektor kebutuhan masyarakat dan sektor pemasukan negara secara berimbang.

3. Mendorong potensi kemampuan dalam negri untuk bersaing dan mengelola sumber daya energi

Luaran

1. Laporan Daya Saing Energi sebagai evaluasi dan kerangka pengelolaan pengembangan kebijakan energi selanjutnya.

2. Special Report membahas tentang isu-isu terbaru pada bidang energi

Metodologi

Laporan Daya Saing Energi 2013 disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari berbagai data base seperti Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), B P Statistical Review, International Energy Agency (IEA), Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), Bloomberg, dan World Energy Council.