Peluncuran Laporan dan Diskusi Daya Saing Industri Alat Kesehatan Indonesia

Industri alat kesehatan diharapkan mampu menjadi salah satu penopang laju perekonomian dengan menjadi salah satu industri yang menarik pelaku industri untuk berkembang dan mendukung terciptanya lapangan pekerjaan. Namun, patut disayangkan bahwa industri alat kesehatan di Indonesia masih menunjukkan tingginya nilai impor alat kesehatan. Hal ini memunculkan pertanyaan: seberapa jauh Indonesia mampu mengejar ketertinggalan

dan bersaing dengan negara maju dalam perdagangan industri alat kesehatan? Pertanyaan tersebut mendorong Kelompok Kerja untuk Daya Saing Indonesia Universitas Gadjah Mada (KKDSI UGM) menggelar diskusi bertajuk “Daya Saing Industri Alat Kesehatan Indonesia”. Kegiatan yang diadakan pada hari Rabu, 21 Mei 2014, di Gedung Pusat UGM ini dibarengi peluncuran laporan dengan judul yang sama. Laporan ini berisi pemetaan posisi Indonesia terhadap 54 negara pembanding dalam bidang industri alat kesehatan yang disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan industri alat kesehatan Indonesia saat ini sebagai hasil dari kondisi beberapa tahun terakhir.

Bertindak sebagai presenter laporan adalah koordinator KKDSI yang juga dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Akhmad Akbar Susamto. Beliau memaparkan beberapa temuan KKDSI terhadap potret industri alat kesehatan Indonesia. Berdasarkan perhitungan keseluruhan alat kesehatan dan dilihat dari keunggulan komparatif melalui nilai revealed symmetric comparative advantage (RSCA), Indonesia berada pada peringkat ke-47 dari 55 negara. Sementara dilihat dari nilai trade balance index (TBI), Indonesia menempati posisi 33. Bahkan di antara negara-negara Asia Tenggara, nilai TBI Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura (9), Malaysia (18), Thailand (28), Vietnam (30), dan Filipina (6). Hal ini menunjukkan produk alat kesehatan Indonesia belum memiliki keunggulan dan nilai perdagangan yang masih rendah.

Sementara itu, Prof. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc., Ph.D, Guru Besar FEB UGM, yang dalam kesempatan kali ini memberikan keynote speech, menyayangkan bahwa industri alat kesehatan belum termasuk dalam klaster industri prioritas Indonesia. “Diperlukan sinergi antardepartemen, antara pusat dengan daerah, serta pemerintah dan dunia usaha dalam pengembangan industri alat kesehatan”, kata beliau. Senada dengan hal tersebut, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. menyoroti perlunya perhatian serius dalam sektor research and development (R&D). Mengutip pernyataan beliau, “Problem bangsa kita adalah banyak orang yang nyambi, termasuk nyambi jadi peneliti. Padahal kita butuh peneliti sungguhan untuk menghasilkan produk berkualitas dan bisa bersaing di tingkat internasional.”

Sebagai kesimpulan diskusi, Indonesia membutuhkan peran aktif dan kerjasama seluruh stakeholders untuk menciptakan industri alat kesehatan yang berdaya saing. Peluncuran laporan dan diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, perwakilan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, serta perwakilan perusahaan distributor alat kesehatan.